Ritual Siraman dalam Pernikahan Adat Jawa dan Maknanya

Dalam budaya Jawa, terdapat berbagai ritual yang dilakukan dalam setiap tahap penting kehidupan manusia. Upacara pernikahan salah satunya, di mana di dalamnya terdapat beberapa rangkaian ritual yang perlu dilakukan oleh calon pengantin.

Salah satunya adalah ritual siraman, yang dilakukan sehari sebelum ijab kabul. Istilah siraman sendiri berasal dari kata siram yang dalam bahasa Jawa berarti mandi. Siraman merupakan simbol pembersihan lahir dan batin, serta membersihkan diri dari segala noda di masa lalu.

Siraman juga menjadi simbol bagi calon pengantin untuk kembali bersih dan siap memasuki lembar baru dalam kehidupannya.

Perlengkapan prosesi siraman

Foto: https://unsplash.com/@fhmi29

Siraman memerlukan beberapa jenis perlengkapan yang digunakan selama prosesi. Berikut ini yang perlu disiapkan untuk melaksanakan ritual siraman.

  • Gayung siraman yang terbuat dari kuningan atau batok kelapa yang dilengkapi dengan untaian padi kuning sebagai lambang merunduk dan mengayomi keluarga.
  • Air yang diambil dari tujuh mata air di daerah tersebut
  • Kembang setaman yang terdiri dari mawar, melati, kenanga dan kanthil, di mana bunga ini dimasukkan ke dalam air siraman
  • Konyoh panca warna atau lulur basah yang terdiri dari lima warna merah, putih, kuning, hijau dan biru, sebagai sabun
  • Landha merang atau air rendaman merang sebagai shampoo, santan kental sebagai penghitam rambut dan air asam sebagai kondisioner
  • Dua butir kelapa hijau tua, lengkap dengan sabutnya yang akan diikat menjadi satu dan dimasukkan dalam air siraman
  • Kain mori sepanjang dua meter yang akan dipergunakan pada saat siraman
  • Kain batik dengan motif grompol dan nagasari. Kedua motif ini bisa diganti dengan motif lain, sepanjang memiliki arti yang positif
  • Handuk
  • Kendi berisi air bersih yang akan dipergunakan untuk pada awal dan akhir siraman

Sebagai bagian dari tradisi Jawa, maka pastinya akan ditemukan berbagai jenis sajen pada ritual siraman. Sajen yang perlu dihadirkan berupa tumpeng robyong (simbol kesejahteraan, kesuburan dan keselamatan), tumpeng gundul, satu sisir pisang raja dan pisang sulut berjumlah genap, buah-buahan, sebuah empluk-empluk yang diisi dengan bumbu dapur lengkap, satu butir telur ayam kampung, satu butir kelapa yang sudah dikupas, satu tangkup gula kelapa, kembang telon terdiri dari kanthil, kenanga dan melati, tujuh macam jenang, wajik, jadah jenang dodol, kacang tanah rebus lengkap dengan kulit dan terakhir adalah satu ekor ayam jantan yang nantinya akan diberikan kepada sang perias.

Prosesi siraman itu sendiri meliputi beberapa tahap. Orang yang menyiram haruslah berjumlah ganjil, rata-rata berjumlah tujuh atau sembilan orang. Pemilihan angkat tujuh juga memiliki simbol dimana angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut pitu yang bisa dimaknai sebagai pitulungan atau pertolongan dari Tuhan YME. Tahap demi tahap dari prosesi siraman itu sendiri adalah:

  • Acara sungkeman sebelum sang calon pengantin dibimbing ke tempat yang telah disediakan.
  • Siraman dimulai dari kedua orang tua dan kemudian dilanjutkan oleh para sesepuh
  • Kemudian upacara siraman diakhiri oleh juru rias atau bisa juga oleh sesepuh. Sang juru rias akan mengakhiri acara siraman dengan cara menggosokkan landha merang, santan kental dan air asam di rambut calon pengantin.
  • Kemudian digosokkan pula konyoh panca warna ke seluruh tubuh dan dibersihkan hingga bersih.
  • Juru rias akan menuangkan air dari kendi untuk digunakan berkumur oleh calon pengantin sebanyak 3 kali
  • Kemudian air dalam kendi akan disiramkan ke kepala, wajah, telinga, leher, tangan dan kaki masing-masing 3 kali
  • Kemudian kendi dipecahkan oleh kedua orang tuanya (atau oleh juru rias) di depan calon pengantin sambil mengucapkan “wes pecah pamore” atau sudah berakhir masa remaja dan keluarnya pesona sang wanita
  • Calon pengantin kemudian akan berganti dengan mengenakan kain batik motif Grompol dan Nagasari

Kemudian calon pengantin akan digendong atau dibopong oleh kedua orang tua ke kamar pengantin. Hal ini menjadi simbol kasih sayang orang tua yang mengiringi anak mereka hingga memasuki tahap baru dalam kehidupan sang anak.

Inti dari prosesi siraman telah selesai. Sang calon pengantin wanita akan di-paes atau dirias dengan menghilangkan bulu halus di dahi dan tengkuk sebagai simbol membuang segala hal jelek yang pernah terjadi dahulu. Sementara itu, prosesi siraman dilanjutkan untuk sang calon pengantin pria dan akan diakhiri dengan acara dodol dawet yang dilakukan oleh sang Ibu dan sang Ayah dari calon pengantin wanita dengan menggunakan kreweng atau pecahan genting sebagai mata uang sebagai bentuk pengajaran kepada calon pengantin akan kerjasama pasangan suami istri.

Kreweng ini nantinya akan diberikan oleh sang Ibu kepada sang putri sebagai simbol cara mengatur nafkah pada kehidupan perkawinannya nanti sekaligus sebagai penutup dari prosesi siraman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *